Dana Sebesar 150 Juta Ditolak Orang Tua Yang Bayinya Terkena Kasus Malpraktek

kasus malpraktek falya blegur

Kejadian malpraktek di Bekasi yang menimpa seorang bayi bernama Falya Rafani Blegur sempat mengagetkan publik. Kini perkaranya beralih ke ranah hukum dan menanti sidang lanjutan. Kini beredar rumor bahwa pihak Rumah Sakit Awal Bros Bekasi mengajukan mediasi dengan menawarkan uang sebesar Rp 150 juta kepada Yusuf Blegur (42) Paman dari Falya. Pihak rumah sakit berharap agar kasus malpraktek ini tidak diperpanjang proses hukumnya di kepolisian.

Jelas tawaran ini tidak diindahkan pihak keluarga. Mereka ingin agar pihak rumah sakit memberikan klarifikasi atas kejadian yang menimpa anaknya hingga meninggal. Keluarga tidak berharap untuk memperoleh santunan. Saat dalam perawatan rumah sakit, pihak dokter dengan semerta-merta memberikan suntikan antibiotik pada Falya padahal catatan medis menunjukkan bahwa Falya tidak perlu antibiotik.

Di Mapolda Metro Jaya, hari jumat tanggal 20 november yang lalu, Yusuf Menyampaikan, “Rumah Sakit Awal Bross menawarkan kompensasi damai dengan dana sejumlah 150 juta sebagai bentuk perhatiannya atas kecerobohan yang dilakukan pihak dokter. Mereka ingin agar kasus ini dihentikan proses hukumnya dan pemberitaannya tidak diperluas.” Kata Yusuf.

Menurut Yusuf, uang itu ditawarkan pada pihak korban di Kantor Dinas Kesehatan Kota Bekasi ketika pihak dinas kesehatan ingin bermediasi dengan orang tua Falya.

Keluarga ingin pihak ruma sakit lebih terbuka dan memberi penjelasan kepada masyarakat terkait kekeliruan dalam menangani pasien. Kalau para dokter terbukti melakukan kelalaian saat merawat Falya, keluarga ingin pihak rumah sakit melakukan permohonan massa di hadapan media.

Yusuf mendesak agar kesalahan dan kelalaian yang dilakukan para dokter saat menangani Falya diklarifikasi dan diakusi secara jujur via media.

Kasus malpraktek ini terjadi di Rumah Sakit Awal Bros seminggu yang lalu diduga karena salah diagnosis sehingga salah seorang dokter menyuntikkan antibiotik.

Menurut pemeriksaan, Fayla meninggal dengan dugaan ia terkena alergi antibiotik dan berakibat keluarnya busa dari mulut serta pembesaran pada perut. Selain itu, pihak dokter diguga terlalu lambat menangani Fayla sehingga Fayla meregang nyawa di rumah sakit.

Kasus malpraktek ini segera dilaporkan ke kantor Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia di daerah Menteng oleh keluarga Fayla. Setelah itu, pelaporan juga dilakukan ke Polda Metro Jaya.